Pemuda dan Kepemimpinan Masa Depan
Oleh Rojikin AH SH*
*(Ketua DPRD Kabupaten Tegal 2009-2014)
*(Ketua DPRD Kabupaten Tegal 2009-2014)
KONSEP kepemimpinan nasional di Indonesia kerap dikaitkan dengan aspek kepemudaan. Asumsi ini setidaknya mengandaikan tiga hal. Pertama, ini sebuah wujud pengakuan eksistensi kaum muda. Bahwa sudah saatnya yang muda memimpin, karena generasi tua dianggap banyak yang terjebak pada konservatisme, memilih mempertahankan tatanan sosial yang telah ada, berapologi terhadap masa lalu. Hal ini dipandang menghalangi tuntutan akan perubahan. Dalam hal ini, kaum muda dianggap lebih steril dari dosa-dosa sosial sekaligus memiliki gairah yang lebih radikal.
Kedua, pemuda adalah penerus kepemimpinan di masa depan. Konsepnya sebagaimana sering disitir banyak orang, pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Pandangan ini mengandaikan perlunya kaderisasi sebagai jalan menuju regenerasi kepemimpinan. Ketiga, pemuda adalah selemen penting dan strategis di dalam kepemimpinan manapun. Di dalam pandangan ini, pemuda adalah bagian dari penopang, yang mendaya-dukung kepemimpinan.
Lalu, apa yang sesungguhnya disebut konsep kepemimpinan? Dalam hal ini banyak ahli yang memberikan definisi di sekitar konsep kepemimpinan ini. George R. Terry mendefinisikan kepemimpinan sebagai hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara menurut Hemhill & Coon (1995), kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal). Dan banyak lagi definisi kepemimpinan yang dijelaskan oleh para ahli, yang pada intinya mencakup dua aspek, yakni kemampuan mempengaruhi dan adanya tujuan bersama.
Tahun 1958 pada sebuah kegiatan Kursus Pancasila di Istana Negara, Bung Karno menyatakan bahwa seorang pemimpin haruslah mampu menggerakkan rakyatnya (kemampuan memu pengaruhi) guna mewujudkan cita-cita nasional yang telah disepakati bersama sebagai sebuah bangsa. Dia menyebut tiga syarat yang harus dimiliki oleh pemimpin agar bisa menggerakkan rakyatnya.
1. Seorang pemimpin harus pintar menggambarkan atau melukiskan cita-cita kepada massa rakyat. Seorang pemimpin yang tidak bisa melukiskan cita-cita, kata Soekarno, tidak akan bisa membangkitkan rakyat. Maka seorang pemimpin dianggap besar jika ia memiliki mimpi dan visi yang besar pula. Dia mampu memberikan pengharapan bagi rakyatnya atas kebaikan di masa depan. Maka dia tidak disibukkan dengan pencitraan diri. Bung Karno pun menggaris bawahi, jangan sekali-kali memberikan iming-iming bohong.
2. Seorang pemimpin harus harus memberi atau membangkitkan rasa mampu di kalangan rakyat. Ini sangat perlu, sebab iming-iming saja tidak cukup membuat orang bergerak. Karena itu, bagi Soekarno, perlu juga membangkitkan kehendak atau kemauan rakyat. Rakyat harus disadarkan akan kemampuannya, sehingga bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang percaya diri, tidak mudah didikte oleh kepentingan asing, seperti menggejala saat ini.
3. Setelah memberi rasa mampu kepada rakyat itu, maka tiba saatnya seorang pemimpin untuk memberi rakyat itu “de werkelijke kracht”, kekuatan yang sesungguhnya: organisasi.
Ketiganya bisa dianggap sebagai sebuah bangunan di dalam upaya melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Mimpi dan cita-cita adalah ideologi, sebuah tujuan dan visi bagi sebuah bangsa. Sementara perasaan mampu atau kepercayaan diri adalah sebuah simpul keyakinan yang menggerakkan. Dan organisasi adalah perangkat operatif di dalam merealisasikan mimpi dan keyakinan.
Dalam hal ini, kelompok pemuda dianggap memiliki energi yang lebih untuk bergerak melakukan perubahan. Menurut salah satu jargonnya yang populer, Bung Karno menyatakan; “Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan aku rubah dunia”. Pertanyaannya, pemuda seperti apakah yang bisa merubah dunia, yang bisa mengawal bangsanya ke arah kehidupan yang lebih baik.
Pada bulan Juli 1948, Bung Karno menyampaikan sebuah pidato yang sangat menggugah di hadapan pemuda-pemuda Aceh. Bung Karno mengatakan, “Pemuda yang tidak bercita-cita bukanlah pemuda. Pemuda-pemudi yang tidak bercita-cita sudah mati sebelum mati.” Karena itu, seorang pemuda haruslah berani bermimpi, menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin, termasuk cita-cita tentang kemajuan bangsanya. Kata Imam Ali, seorang pemuda adalah yang berani menyatakan inilah saya, bukan menyatakan inilah bapak saya.
Tahun 1928, sejumlah perwakilan pemuda nusantara telah berani mengikrarkan sebuah cita-cita besar bersama: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Kita pun mafhum, bahwa kemerdekaan bangsa ini pun dipelopori oleh tokoh-tokoh muda dengan cita-cita yang besar.
Tipe Kepemimpinan
Ada banyak tipe kepemimpinan yang ada di dunia, sebagaimana disampaikan sejumlah ahli. Di dalam bukunya, Kartini Kartono (2003) mengkategorikan delapan tipe kepemimpinan;
1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Pemimpin tipe ini memiliki energi, daya tarik dan pembawaan yang luar bisa guna mempengaruhi orang lain. Di dalam masyarakat tradisional, tipe pemimpin kharismatik biasanya dilekatkan dengan kemampuan magis atau supranatural.
2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis
Kepemimpinan tipe ini selalu dikaitkan dengan karakter kebapaan. Pertama, mereka menganggap orang yang dipimpin sebagai manusia yang belum dewasa. Kedua, karenanya insting protektif (melindungi) nya amat kuat. Ketiga, mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri. Keempat, tidak memberikan kesempatan bagi bawahan untuk berinisiatif, berimajinasi dan berkreativitas.
3. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Kepemimpinan militeristik identik dengan kepemimpinan otoriter, yang mengandaikan sistem komando, kepatuhan mutlak bawahan, disiplin yang keras dan kaku, komunikasi yang searah, dan cenderung mematikan sikap kritis bawahan.
4. Tipe Kepemimpinan Otokratis
Pemimpin tipe ini memiliki beberapa ciri. (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Tipe kepemimpinan ini biasanya diperoleh melalui praktek tak sehat seperti suap dan nepotisme. Akibatnya, pemimpin ini bukan hanya tak memiliki kemampuan dan keahlian memimpin, tetapi juga menyerahkan seluruh tugas dan tanggung jawab kepada bawahannya, tanpa partisipasi dan kepedulian. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif
6. Tipe Kepemimpinan Populistis
Pemimpin tipe ini selalu berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
7. Tipe Kepemimpinan Administratif
Pada tipe kepemimpinan ini, pemimpin cenderung berperan sebagai eksekutif. Dia mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan.
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada pengikutnya. Kekuatan kepemimpinan tipe ini tidaklah terletak pada pemimpinnya, melainkan pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Sebab di dalamnya terdapat sistem koordinasi dan pembagian peran yang efektif dengan menekankan rasa tanggung jawab internal.
Kepemimpinan Ideal
Seperti apakah konsep kepemimpinan ideal bagi bangsa ini? Sosok pemimpin ideal macam apa pula yang dibutuhkan Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan? Perdebatan di sekitar kepemimpinan ideal ini tentu tak pernah selesai diperdebatkan.
Sebagai bangsa baru yang masih terus penjadian diri (nation in making), Indonesia memerlukan pengembangan pikiran-pikiran mendasar tentang kebangsaan dan kenegaraan (Nurcholish Madjid, 2004). Karena itu, konsep kepemimpinan nasional pun dengan demikian harus mengakarkan dirinya secara kuat pada nilai-nilai pondasional bangsa ini, yang diwariskan oleh segenap founding fathers republik ini.
Semua tentu sepakat, bahwa konsep kepemimpinan nasional yang ideal tersebut haruslah menjiwai karakter dan budaya bangsa. Nilai-nilai kearifan nusantara tersebut harus menjadi ruh yang menggarami tata laku dan kebijaksanaan seorang pemimpinan nasional.
Sebagai bangsa yang kaya akan keragaman suku, ras dan agama, lengkap dengan aneka macam budaya, maka Pancasila telah sejak semula disepakati menjadi idelogi bangsa. Pancasila adalah sebuah common platform, kalimatun sawa, sebagai konsekuensi atas kemajemukan bangsa. Maka konsep kepemimpinan nasional pun dengan demikian menjadi pengejawawantahan atas nilai-nilai Pancasila. Kepemimpinan nasional menjadi tak terpisahkan dengan landasan ideologis bangsa.
Faktanya krisis multidimensi masih menaungi bangsa ini tanpa ada tanda-tanda kapan berakhirnya. Kemiskinan, pengangguran, kerusuhan, konflik berbau SARA, konflik agraria, korupsi, hingga potensi disintegrasi bangsa masih merajalela di negeri ini. Oleh sebab sedemikian besarnya persoalan bangsa ini, maka diperlukan sebuah kekuatan yang besar dan tangguh pula untuk mengatasinya. Semua itu mengandaikan adanya peneguhan kembali ikatan batin atau komitmen semua anak bangsa kepada cita-cita nasionalnya, disertai pembaharuan tekad bersama untuk melaksanakannya. Dalam ungkapan Bung Karno, semua itu memerlukan semangat “samen bundeling van alle krachten van de natie”, pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa.
Dalam kaitan inilah, energi dan cita-cita kaum muda akan menjadi sangat strategis, guna mengawal terciptanya kepemimpinan yang ideal di negeri ini. Sebuah kepemimpinan yang bercita-cita pada keadilan sosial dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman nilai dan tata kebijakan. Wallahu a’lam. ***
Sumber:
Madjid, Nurcholish. 2004, Indonesia Kita, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
http://belajarpsikologi.com/

0 komentar:
Posting Komentar